Budaya Betawi
Suku Betawi terdiri dari beberapa etnis yang bergabung
dalam satu daerah sehingga membentuk kebudayaan sendiri yaitu Budaya Betawi.
Suku Betawi berasal dari hasil kawin-mawin antaretnis dan bangsa di masa lalu.
Secara biologis, mereka yang mengaku sebagai orang Betawi adalah keturunan kaum
berdarah campuran aneka suku dan bangsa yang didatangkan oleh Belanda ke
Batavia. Apa yang disebut dengan orang atau suku Betawi sebenarnya terhitung
pendatang baru di Jakarta. Kelompok etnis ini lahir dari perpaduan berbagai
kelompok etnis lain yang sudah lebih dulu hidup di Jakarta, seperti orang
Sunda, Jawa, Arab, Bali, Sumbawa, Ambon, Melayu dan Tionghoa.
Dengan semakin beragamnya etnis di Betawi, maka setiap
etnis biasanya mempengaruhi setiap perayaan etnis Betawi. Seperti budaya
penyalaan petasan, Lenong, Cokek, hingga pakaian pernikahan adat Betawi yang
didominasi warna merah, itu semua dipengaruhi kuat oleh budaya
Tionghoa.Kemudian etnis Arab sangat mempengaruhi musik gambus dalam warna musik
marawis dan Tanjidor.
Tanjidor
sendiri adalah perpaduan budaya Eropa, Cina, Melayu dan Arab. Sementara di
kampung Tugu terkenal dengan budaya keroncong yang bersal dari Portugis.Salah
satu musik khas dari kesenian Betawi yang paling terkenal adalah Gambang
Kromong, dimana dalam setiap kesempatan perihal Betawi, Gambang Kromong selalu
menjadi tempat yang paling utama. Hampir setiap pemberitaan yang ditayangkan di
televisi, Gambang Kromong selalu menjadi ilustrasi musiknya.
Asal mula budaya betawi
Budaya Jakarta merupakan budaya mestizo, atau sebuah
campuran budaya dari beragam etnis. Sejak zaman Belanda, Jakarta merupakan ibu
kota Indonesia yang menarik pendatang dari dalam dan luar Nusantara. Suku-suku
yang mendiami Jakarta antara lain, Jawa, Sunda, Minang, Batak dan . Selain dari
penduduk Nusantara, budaya Jakarta juga banyak menyerap dari budaya luar,
seperti Budaya arab, Tiongkok, India, dan Portugis.
Suku Betawi sebagai penduduk asli Jakarta agak
tersingkirkan oleh penduduk pendatang. Mereka keluar dari Jakarta dan pindah ke
wilayah-wilayah yang ada di provinsi Jawa Barat dan provinsi Banten. Budaya
Betawi pun tersingkirkan oleh budaya lain baik dari Indonesia maupun budaya
barat. Untuk melestarikan budaya Betawi, didirikanlah Cagar budaya di Situ
Babakan.
Sejak dulu memang sudah banyak perdebatan mengenai
asal mula beragam budaya yang kini ada di Betawi. Paralel dengan perdebatan
sejak kapan kaum Betawi eksis. Pakar masalah Betawi seperti Ridwan Saidi
mengungkapkan bahwa orang Betawi sudah ada sejak jaman Neolitikum. Sementara
Lance Castle, sejarawan Belanda, mengatakan bahwa yang disebut kaum Betawi baru
muncul pada tahun 1930, saat sensus penduduk dilakukan. Pada sensus penduduk
sebelumnya, kaum Betawi tidak disebutkan. Kala itu sensus memang dilakukan
berdasarkan etnis atau asal keturunan.
Namun terlepas dari itu, memang kemunculan kaum Betawi
baru terdengar secara nasional pada saat Muhamad Husni Thamrin mendirikan
Perkoempoelan Kaoem Betawi.
Sebelumnya etnis Betawi hanya menyebut diri mereka berdasarkan lokalitas saja, seperti Orang Kemayoran, Orang Depok, Orang Condet, Orang RawaBelong dan sebagainya.
Sebelumnya etnis Betawi hanya menyebut diri mereka berdasarkan lokalitas saja, seperti Orang Kemayoran, Orang Depok, Orang Condet, Orang RawaBelong dan sebagainya.
Lalu bagaimana dengan munculnya ragam budaya di Betawi
? Mengenai hal ini, tak dapat dipungkiri bahwa mulai terjadi saat Sunda Kelapa
Menjadi Pelabuhan Internasional yang ramai dikunjungi kapal-kapal asing pada
abad 12. Kemudian pada abad 14 sampai 15, Sunda kelapa dikuasai Portugis.
Mereka juga banyak memberi pengaruh kebudayaan yang kuat kala itu.
Padat tahun 1526, Pangeran Fatahillah menyerbu Sunda Kelapa dan menamakan daerah kekuasaannya dengan nama Jayakarta . Sejak dikuasai Fatahillah, kota Jayakarta banyak dihuni oleh orang Banten, Demak dan Cirebon.
Lalu saat Jan Pieterzoon Coen menguasai Jayakarta dan mendirikan Batavia, dimulailah mendatangkan etnis Tionghoa yang terkenal rajin dan ulet bekerja untuk membangun ekonomi Batavia. Coen juga mendatangkan banyak budak dari Asia Selatan dan Bali.
Perlahan tapi pasti kebudayaan di Batavia kala itu semakin semarak saja, karena setiap etnis biasanya juga membawa dan mempengaruhi kebudayaan setempat. Ditambah lagi umumnya para budak atau etnis tertentu yang didatangkan ke Batavia adalah pria. Sehingga disini mereka kemudian kawin dengan wanita setempat dan beranak pinak.
Disaat bersamaan pula para pedagang dari Arab dan India juga terus berdatangan, oleh Belanda mereka di tempatkan di Pekojan. Semakin hari semakin banyaklah pendatang dari India dan Arab, akhirnya mereka pindah ke Condet, Jatinegara, dan Tanah Abang. Tak heran masih banyak warga keturunan Arab di daerah-daerah tersebut.
Sementara para anak keturunan bangsa Portugis ditempatkan di daerah Kampung Tugu, Jakarta Utara. Dengan semakin beragamnya etnis di Betawai, maka setiap etnis biasanya mempengaruhi setiap perayaan etnis Betawi. Seperti budaya penyalaan petasan, Lenong, Cokek, hingga pakaian pernikahan adat Betawi yang didominasi warna merah, itu semua dipengaruhi kuat oleh budaya Tionghoa.
Kemudian etnis Arab sangat mempengaruhi musik gambus dalam warna musik marawis dan Tanjidor. Tanjidor sendiri adalah perpaduan budaya Eropa, Cina, Melayu dan Arab. Sementara di kampung Tugu terkenal dengan budaya keroncong yang bersal dari Portugis.
Macam-macam kesenian betawi
Sifat campur-aduk dalam dialek Betawi adalah cerminan
dari kebudayaan Betawi secara umum, yang merupakan hasil perkawinan berbagai
macam kebudayaan, baik yang berasal dari daerah-daerah lain di Nusantara maupun
kebudayaan asing. Dalam bidang kesenian, misalnya, orang Betawi memiliki seni
Gambang Kromong yang berasal dari seni musik Tiongkok, tetapi juga ada Rebana
yang berakar pada tradisi musik Arab, Keroncong Tugu dengan latar belakang
Portugis-Arab,dan Tanjidor yang berlatarbelakang ke-Belanda-an.
Secara biologis, mereka yang mengaku sebagai orang Betawi adalah keturunan kaum berdarah campuran aneka suku dan bangsa. Mereka adalah hasil kawin-mawin antaretnis dan bangsa di masa lalu. Berbagai kesenian tradisional Betawi dapat berkembang dan digemari oleh masyarakat luas, bukan hanya masyarakat Betawi.
Kesenian Betawi tersebut antara lain :
1.Lenong,
2. Topeng Blantik,
3. Tari Topeng,
4. Ondel-ondel,
5. Tari Ronggeng Topeng, dan lain-lain
Seni suara dan seni musiknya adalah :
1. Sambrah,
2. Rebana,
3. Gambang kromong,
4. Tanjidor dan sejenisnya.
A. Wayang Betawi
Wayang adalah salah satu khazanah budaya tanah air
yang banyak ditemui di berbagai daerah, terutama di Jawa. Wayang yang amat
dekat dengan masyarakatnya, kerap dimanfaatkan sebagai media penyebar berbagai
informasi. Wayang, tumbuh dan berkembang seiring dengan masyarakatnya, ia mampu
merubah bentuk dan tetap mendapat tempat, sekecil apapun itu
Jakarta, sebagai pusat negara, juga memiliki seni tradisional wayang. Orang banyak menyebutnya dengan wayang kulit Betawi. Jenis kesenian di Betawi ini, konon lahir ketika Sultan Agung dari Kerajaan Mataram menginjakkan kakinya di tataran Sunda Kelapa. Selain membawa pasukan, turut pula rombongan kesenian wayang kulit.
Ternyata tampilan wayang dari Mataram ini begitu memukau penduduk setempat, khususnya yang berdiam di kawasan Tambun, Bekasi. Kemudian muncullah satu bentuk baru dari wayang kulit Jawa, yaitu wayang yang berbahasa Melayu Betawi, Wayang Kulit Betawi.
Seperti halnya seni wayang lain, wayang kulit Betawi memilik tokoh sentral, seorang dalang.
Sebagaimana lazimnya, wayang kulit Betawi ini juga menggunakan kelir, yang disini disebut “kere”. Alat musik pengiringnya terdiri dari kendang, terompet, rebab, saron, keromong, kecrek, kempul dan gong. Yang tampak lain dalam wayang kulit Betawi adalah, masuknya unsur Sunda yang kental. Meski dialog dengan bahasa Betawi, namun musik pengiring hingga lantunan lagunya berasal dari tanah Pajajaran.
Sepintas, tak ada perbedaan yang berarti dengan wayang kulit lainnya. Hanya barangkali bentuk gapit atau pegangan wayang, pada wayang kulit Betawi tak dijumpai bahan tanduk, namun menggunakan rotan. Wayang kulit Betawi juga didominasi warna merah cerah.
Lakon yang sering dimainkan adalah carangan, cerita yang disusun sendiri oleh dalang dengan tokoh-tokoh dari cerita Mahabharata. Cerita lain khas Betawi adalah Bambang Sinar Matahari, Cepot Jadi Raja dan Barong Buta Sapujagat. Umumnya, cerita yang dimainkan sangat kontekstual dengan keadaan masyarakat sekitar. Oleh karena itu, wayang kulit Betawi penampilannya lebih bebas, lebih demokratis. Logatnyapun akrab dengan masyarakat Betawi, dan dialog yang ditampilkan menggunakan bahas Indonesia pergaulan.
Hanya saja, orang Betawi diyakini hanya menggemari cerita yang seru dan lucu, sehingga kedua lakon inilah yang kerap dikedepankan para dalangnya. Ada perang dan kaya banyolan.
Walau tampilannya begitu komunikatif, wayang kulit Betawi tak sepopuler wayang kulit Jawa. Selama ini, wayang kulit Betawi hanya dimainkan di daerah pinggiran, lokasi asal tumbuhnya wayang kulit Betawi. Sepanjang perjalanan riwayatnya, wayang kulit Betawi tampil dengan penuh kesederhanaan, sehingga boleh dibilang menepikan aspek estetika, moral dan falsafah.
Di balik kesederhanaan tampilannya, wayang kulit Betawi justru sebenarnya memiliki peluang untuk tumbuh. Ia memiliki kekuatan dalam penggunaan bahasa. Selama ini, bahasa kerap menjadi halangan untuk mengenal seni wayang. Pada wayang kulit Betawi, tidak. Ia justru kekuatan. Tinggal sang dalanglah yang mengemasnya menjadi sebuah tontonan memikat.
Lenong sebagai tontonan, sudah dikenal sejak 1920-an.
Almarhum Firman Muntaco, seniman Betawi terkenal, menyebutnya kelanjutan dari
proses teaterisasi dan perkembangan musik Gambang Kromong. Jadi, Lenong adalah
alunan Gambang Kromong yang ditambah unsur bodoran alias lawakan tanpa plot
cerita.
Kemudian berkembang menjadi lakon-lakon berisi banyolan pendek, yang dirangkai dalam cerita tak berhubungan. Lantas menjadi pertunjukan semalam suntuk, dengan lakon panjang utuh, yang dipertunjukkan lewat ngamen keliling kampung. Selepas zaman penjajahan Belanda, lenong naik pangkat, karena mulai dipertunjukkan di panggung hajatan. Baru di awal kemerdekaan, teater rakyat ini murni menjadi tontonan panggung
Saat itu, dekornya masih sangat sederhana, berupa layar sekitar 3×5 meter bergambar gunung, sawah, hutan belantara dengan pepohonan besar, rumah-rumah kampung, laut dan perahu nelayan serta balairung istana dengan tiang-tiangnya yang besar. Alat penerangannya pun tradisional, berupa colen, obor tiga sumbu yang keluar dari ceret kaleng berisi minyak tanah. Sebelum meningkat jadi petromaks.
Walaupun terus menyesuaikan diri dengan maunya zaman, untuk terus survive, lenong harus berjuang keras. Dan ini tak mudah. Tahun 60′-an, masih dengan mengandalkan durasi pertunjukan semalam suntuk dan konsep dramaturgi sangat sederhana, lenong mulai kedodoran. “Rasanya, kami seperti berada di pinggir jurang,” cetus S.M Ardan, sastrawan dan sineas Betawi yang kini aktif di Pusat Perfilman Usmar Ismail, Kuningan, Jakarta.
Ondel-ondel merupakan hasil dari kebudayaan Betawi
yang berupa boneka besar yang tingginya mencapai sekitar ± 2,5 m dengan garis
tengah ± 80 cm, boneka ini dibuat dari anyaman bambu yang dibuat agar dapat
dipikul dari dalam oleh orang yang membawanya. Boneka tersebut dipakai dan
dimainkan oleh orang yang membawanya. Pada wajahnya berupa topeng atau kedok
yang dipakaikan ke anyaman bamboo tersebut, dengan kepala yang diberi rambut
dibuat dari ijuk. Wajah ondel-ondel laki-laki biasanya di cat dengan warna
merah, sedangkan yang perempuan dicat dengan warna putih.
Jenis pertunjukan ini diduga sudah ada sebelum tersebarnya agama Islam di pulau Jawa dan juga terdapat di berbagai daerah dengan pertunjukkan yang sejenis. Di Pasundan dikenal dengan sebutan Badawang, di Jawa Tengah disebut Barongan Buncis, sedangkan di Bali dikenal dengan nama Barong Landung.
Awal mulanya pertunjukan ondel-ondel ini berfungsi sebagai penolak bala dari gangguan roh halus yang mengganggu. Namun semakin lama tradisi tersebut berubah menjadi hal yang sangat bagus untuk dipertontonkan, dan kebanyakan acara tersebut kini di adakan pada acara penyambutan tamu terhormat, dan untuk menyemarakkan pesta-pesta rakyat serta peresmian gedung yang baru selesai dibangun.
Disamping untuk memeriahkan arak-arakan pada masa yang lalu biasa pula mengadakan pertunjukan keliling, “Ngamen”. Terutama pada perayaan-perayaan Tahun Baru, baik masehi maupun Imlek. Sasaran pada perayaan Tahun Baru Masehi daerah Menteng, yang banyak dihuni orang-orang Kristen.Pendukung utama kesenian ondel-ondel petani yang termasuk “abangan”, khususnya yang terdapat di daerah pinggiran kota Jakarta dan sekitarnya.
Musik yang mengiringi ondel-ondel tidak tertentu, tergantug dari asing-masing rombongan. Ada yang diiringi tanjidor, seperti rombongan ondel-ondel pimpian Gejen, kampong setu. Ada yang diiringi dengan pencak Betawi seperti rombongan “Beringin Sakti” pimpinan Duloh, sekarag pimpinan Yasin, dari Rawasari. Adapula yang diirig Bende, “Kemes”, Ningnong dan Rebana ketimpring, seperti rombogan ondel-ondel pimpinan Lamoh, Kalideres. Ondel-ondel betawi tersebut pada dasarnya masih tetap bertahan dan menjadi penghias di wajah kota metropolitan Jakarta.
D. Tari Topeng Betawi dan Tari Lenggang Nyai
Tarian betawi yang cukup lama dikenal masyarakat
adalah Tari Topeng Betawi. Dalam Tari Topeng Betawi, Anda dapat melihat tiga
unsur seni sekaligus. Yaitu tari, teater dan musik. Musik pengiring Tari Topeng
Betawi banyak sekali. Topeng Betawi tumbuh dan berkembang di pinggir-pinggir
Jakarta. Biasanya digelar saat ada pernikahan, acara sunatan dan membayar
nazar. Dalam Topeng Betawi, para penari memakai topeng dan bercerita lewat seni
gerak. Kini tari Topeng Betawi sudah banyak dikreasikan. Sehingga Tarian Betawi
pun semakin beragam.
Adalah Wiwik Widiastuti yang mengembangkan Tarian
Lenggang Nyai ini. Atau lebih dikenal masyarakat dengan sebutan Tari Lenggang
Betawi. Wiwik sendiri bukan orang Betawi asli, ia adalah orang Yogyakarta.
Namun kecintaannya kepada budaya dan tarian betawi, membuat Wiwik menciptakan
kreasi Tari Lenggang Betawi ini. Dalam tarian ini dapat melihat ada unsur
tanjidor dan tari topeng yang kental sekali. Tarian Betawi Lenggang Nyai ini
bercerita tentang Nyai Dasima yang berhasil membebaskan diri dari pemaksaan.
Nyai Dasima pun mampu menentukan arah dan pilihan hidupnya.
E. Tari Japin dan Tari Cokek Betawi
Selain dengan alat musik gambang kromongnya budaya
betawi juga mempunyai berbagai macam tarian. Tarian tarian betawi mempunyai
ciri khas sendiri yaitu suara musik pengiring yang riang serta gerakan-gerakan
tari yang dinamis. Tarian tarian yang berasal dari betawi diantaranya :
Tari Japin sebenarnya adalah tari Zapin. Kebiasaan
orang betawi menyebut Z dengan huruf J membuat nama tarian ini secara otomatis
berubah menjadi Japin. Tarian ini sudah tersebar dimana-mana. Tarian ini
mendapat pengaruh besar dari budaya Arab.Yang membedakan tarian betawi Japin
dengan Zapin pada umumnya adalah musik pengiringnya. Tari Japin menggunakan
musik-musik lagu betawi seperti gambus. Tari Zapin ditarikan secara
melompat-lompat sambil memukul sebuah kendang rebana kecil. Memukulnya pun
serentak dengan gerakan yang menghentak. Melihat tarian betawi ini memberikan
nuansa riang. Tari Japin Betawi biasanya berpasang-pasangan antara perempuan
dan lelaki.
Tarian betawi yang satu ini dibawa oleh para cukong
atau tuan tanah peranakan tionghoa yang kaya raya. Dulu mereka merawat penari
cokek dan pemain-pemain Gambang Kromong. Tarian cokek ini diiringi oleh musik
Gambang Kromong dan sering ditampilkan dalam acara-acara yang diadakan oleh
Tuan Tanah. Oleh karena itu, tarian dan pakaian tari Cokek Betawi agak mirip
dengan tarian-tarian di Cina.
Seiring berkembangnya zaman, tuan tanah yang mau
menampung hidup penari cokek dan Gambang Kromong pun berkurang. Alhasil sedikit
sekali yang mau melestarikan tarian betawi ini. Tari cokek agak mirip dengan
ngibing. Ciri khasnya yang lain adalah goyang pinggul yang geal-geol. Kini
pemain cokek dan pemain Gambang Kromong yang profesional, susah dicari.
Kesenian musik ini merupakan perpaduan dari kesenian
musik setempat dengan Cina. Hal ini dapat dilihat dari instrumen musik yang
digunakan, seperti alat musik gesek dari Cina yang bernama Kongahyan, Tehyan
dan Sukong. Sementara alat musik Betawi antara lain; gambang, kromong, kemor,
kecrek, gendang kempul dan gong. Kesenian Gambang Kromong berkembang pada abad
18, khususnya di sekitaran daerah Tangerang.
Bermula dari sekelompok grup musik yang dimainkan oleh beberapa orang pekerja pribumi di perkebunan milik Nie Hu Kong yang berkolaborasi dengan dua orang wanita perantauan Cina yang baru tiba dengan membawa Tehyan dan Kongahyan.Pada awalnya lagu-lagu yang dimainkan adalah lagu-lagu Cina, pada istilah sekarang lagu-lagu klasik semacam ini disebut Phobin. Lagu Gambang Kromong muatan lokal yang masih kental unsur klasiknya bisa didengarkan lewat lagu Jali-Jali Bunga Siantan, Cente Manis, dan Renggong Buyut.
Pada tahun 70an Gambang Kromong sempat terdongkrak keberadaannya lewat sentuhan kreativitas "Panjak" Betawi legendaris "Si Macan Kemayoran", Almarhum H. Benyamin Syueb bin Ji'ung. Dengan sentuhan berbagai aliran musik yang ada, jadilah Gambang Kromong seperti yang kita dengar sekarang. Hampir di tiap hajatan atau "kriya'an" yang ada di tiap kampung Betawi, mencantumkan Gambang Kromong sebagai menu hidangan musik yanh paling utama. Seniman Gambang Kromong yang dikenal selain H. Benyamin Syueb adalah Nirin Kumpul, H. Jayadi dan bapak Nya'at.
G. Orkes Samrah dan Tanjidor
Kesenian Betawi yang dalam bentuk orkes yang mendapat
pengaruh dari suku Melayu. Lagu-lagu yang biasa di bawakan biasanya lagu-lagu
yang bersifat jadul(jaman dulu) seperti lagu Burung Putih, Pulo angsa Dua dan
sirih Kuning. Orkes Samrahh banyak berkembang di daerah Tenabang, dimana
daerah ini dikenal sebagai pusat dari penyebaran Melayu Riau di Betawi.
Orkes samrah juga biasa dipakai mengiringi lagu-lagu khas Betawi semacam Kicir-kicir, Jali-jali, Lenggang Kangkung dan lain-lain. Sementara tarian yang biasa diiringi orkes samrah disebut Tari Samrah. Biasanya, para penari samrah menari berpasang-pasangan dengan gerakan tari bermacam-macam, yang salah satunya dipengaruhi oleh gerakan silat. Tokoh dalam bidang musik samrah adalah Ali Sabeni, anak dari Jawara legendaris Sabeni.
Tanjidor adalah sebuah kesenian Betawi yang berbentuk
orkes. Kesenian ini sudah dimulai sejak abad ke-19. Alat-alat musik yang
digunakan biasanya terdiri dari penggabungan alat-alat musik tiup, alat-alat
musik gesek dan alat-alat musik perkusi. Biasanya kesenian ini digunakan untuk
mengantar pengantin atau dalam acara pawai daerah. Tapi pada umumnya kesenian
ini diadakan di suatu tempat yang akan dihadiri oleh masyarakat Betawi secara
luas layaknya sebuah orkes.
H. Beladiri Beksi
Sejak dahulu kala, masyarakat Betawi selalu dikenal
dan diidentikan dengan pencak silat dan pengajiannya. Kabarnya, sejak zaman
kompeni Belanda, remaja Betawi selalu dituntut untuk rajin beribadah dan mampu
menjaga diri dengan mempelajari ilmu beladiri pencak silat. Tak heran ilmu
beladiri ini menjadi salah satu jenis kebudayaan milik masyarakat Betawi.
Di tanah Betawi ini, ternyata banyak menyimpan berbagai jenis seni beladiri, salah satunya silat Beksi. Seni beladiri yang satu ini merupakan perpaduan antara bela diri dengan seni, keindahan, dan ketepatan dalam mencapai sasaran lawan. Tak hanya itu, meski tak mengenyampingkan keindahan gerak, kekuatan tenaganya tak bisa dianggap remeh. Kecepatan serta kedinamisan dalam gerak inilah yang dapat memukul lawan hingga tak berdaya dan mungkin berakibat fatal.
Dalam silat Beksi, olah pukul yang menitikberatkan pada sikut atau bagian luar daerah lengan menjadi ciri khas pukulan jenis silat ini. Dengan memanfaatkan kekuatan lawan, pukulan beksi dapat mengakibatkan lawan terluka dan berakibat fatal. Hal inilah yang diandalkan jagoan-jagoan Betawi saat berhadapan dengan lawannya.
Salah satu tokoh silat Betawi Beksi, Bang Endang SH mengaku, keseluruhan gerakan yang terangkum dan tertata secara dinamis ini menjadikan silat Beksi sebagai ilmu beladiri yang berbeda dengan ilmu beladiri lainnya. Dari keindahan gerak inilah, silat Beksi banyak digunakan atau diperagakan dalam prosesi palang-pintu pada acara pernikahan adat Betawi bagian Selatan.
Pada silat Beksi terdapat 18 jurus dengan 9 jurus dasar yang disebut formasi. Sementara, atraksi Betawi yang sering melibatkan silat Beksi adalah prosesi Palang Pintu dan Sambut Makna dengan menggunakan formasi jurus beregu dan jurus individu. “Karena kemantepan dalam gerak pas dilakukan pada palang-pintu agar lebih greget,” kata Endang kepada beritajakarta.com, Sabtu (1/5).
Selanjutnya Endang mengaku, jika pencak silat Beksi sudah ada semenjak zaman kolonial Belanda. Hal itu dibuktikan dengan adanya penggunaan beladiri ini semenjak abad ke 18. Jenis beladiri ini telah diwariskan secara turun temurun hingga sampai kepada tokoh besar silat Beksi, H Hasbullah, yang membuka perguruan Beksi di Kabayoranlama, Jakarta Selatan.
Endang mengisahkan bawa silat Beksi ini berasal dari China yang dibawa oleh Lie Ceng Oek. Di Tanah Betawi ini kemudian Lie Ceng Oek membentuk sebuah perguruan pencak silat di daerah Dadap, Tangerang. Untuk melestarikan ilmu silat Beksi, Lie Ceng Oek menurunkan ilmua kepada muridnya yang bernama Ki Marhali dan dilanjutkan oleh H Ghazali. Dari situ kemudian ilmu diturunkan lagi kepada H Hasbullah dan generasi berikutnya.
Dalam perkembangannya, silat Beksi tumbuh di daerah Betawi pinggiran udik atau daerah Selatan Jakarta seperti daerah Pesanggrahan, Kebayoranlama, Ciledug, dan sebagian daerah di Tangerang. Perpaduan ilmu Beksi yang dibawa Lie Ceng Oek dengan gerakan yang diciptakan oleh sesepuh Beksi asal Betawi, menjadikan ilmu Beksi ini sebagai seni beladiri Betawi.
Budaya
Jepang
1.Otaku
Otaku (おたく/オタク) adalah
istilah bahasa Jepang yang digunakan untuk menyebut orang yang
betul-betul menekuni hobi.
Sejak
paruh kedua dekade 1990-an, istilah Otaku mulai dikenal di luar Jepang untuk
menyebut penggemar berat subkultur
asal Jepang seperti anime dan manga, bahkan ada orang yang menyebut dirinya sebagai Otaku.
Lingkungan Universitas Indonesia, GJUI menjadi sebuah lokasi berkumpul yang populer bagi otaku
-
Sejarah
Di awal dekade 1980-an sudah ada istilah bernada sumbang byōki (ビョーキ "sakit") yang ditujukan kepada
penggemar berat lolicon, manga dan dōjin
manga. Istilah byōki sudah
sering muncul dalam dōjinshi sampai
ke anime dengan peran utama anak perempuan seperti Minky Momo.
Istilah otaku pertama kali diperkenalkan oleh kolumnis Nakamori Akio dalam artikel "Otaku" no Kenkyū (おたくの研究 Penelitian tentang Otaku) yang dimuat majalah Manga Burikko. Dalam artikel yang dimuat bersambung dari bulan Juni hingga Desember 1983, istilah otaku digunakan untuk menyebut penggemar berat subkultur seperti anime dan manga.
Pada waktu itu, masyarakat umum sama sekali belum mengenal istilah otaku. Media massa yang pertama kali menggunakan istilah otaku adalah radio Nippon Broadcasting System yang mengangkat segmen Otakuzoku no jittai (おたく族の実態 situasi kalangan otaku) pada acara radio Young Paradise. Istilah Otakuzoku (secara harafiah: suku Otaku) digunakan untuk menyebut kalangan otaku, mengikuti sebutan yang sudah ada untuk kelompok anak muda yang memakai akhiran kata "zoku.
Pada perkembangan selanjutnya, sebutan otaku digunakan untuk pria lajang yang mempunyai hobi anime, manga, idol, permainan video, dan komputer pribadi tanpa mengenal batasan umur. Istilah otaku juga banyak dipakai untuk menyebut wanita lajang atau wanita sudah menikah yang membentuk kelompok sedikit bersifat "cult" berdasarkan persamaan hobi. Kalangan yang berusia 50 tahun ke atas yang merupakan penggemar berat high culture atau terus mengejar prestasi di bidang akademis jarang sekali dan hampir tidak pernah disebut otaku.
Istilah "otaku" dalam arti sempit awalnya hanya digunakan di antara orang-orang yang memiliki hobi sejenis. Belakangan ini, istilah otaku dalam arti luas sering dapat mempunyai konotasi negatif atau positif bergantung pada situasi dan orang yang menggunakannya. Istilah otaku secara negatif digunakan untuk penggemar fanatik suatu subkultur yang letak bagusnya tidak bisa dimengerti masyarakat umum, atau orang yang kurang mampu berkomunikasi dan sering tidak mau bergaul dengan orang lain. Otaku secara positif digunakan untuk menyebut orang yang sangat mendalami suatu bidang hingga mendetil, dibarengi tingkat pengetahuan yang sangat tinggi hingga mencapai tingkat pakar dalam bidang tersebut.
-
Generasi Otaku di
Jepang:
·
Otaku generasi
pertama (kelahiran paruh pertama tahun 1960-an)
Otaku generasi pertama dibesarkan sebagai
penggemar fiksi sains di saat masyarakat umum masih mengganggap anime
sebagai konsumsi anak-anak. Gekiga yang dimaksudkan sebagai bacaan orang dewasa
lalu mulai dikenal secara luas. Otaku generasi pertama juga mulai ikut-ikutan
membaca Gekiga. Di Jepang, generasi kelahiran tahun 1960-an disebut generasi
Shinjinrui (Generation X) yang sewaktu
kecil takjub dengan monster yang bisa berubah bentuk
·
Otaku generasi II
(kelahiran sekitar tahun 1970-an)
Pada masa kecil membaca Space Battleship
Yamato, Mobile Suit Gundam yang nantinya menjadi bekal penting untuk
menjadi otaku. Masyarakat Jepang mulai menerima kehadiran otaku. Sebagian otaku
generasi II tidak bisa membedakan antara dunia fiksi sains dengan alam nyata,
misalnya Gundam-otaku (Gun-ota). Permainan video dekade 1980-an juga menjadi
kegemaran otaku generasi II. Pada saat yang sama, masyarakat mulai menaruh
praduga terhadap otaku akibat kasus pembunuhan heboh dengan pelaku seorang
otaku. Di kalangan anak sebaya, otaku mulai mendapat perlakuan diskriminasi.
·
Otaku generasi III
(kelahiran sekitar tahun 1980-an)
Pada masa kecil membaca Neon Genesis Evangelion, otaku generasi III sekarang menjadi inti
gerakan Sekai
Kei. Anak-anak dari otaku
generasi I mulai menjadi otaku sehingga citra negatif otaku semakin berkurang
dan otaku hanya dianggap sebagai salah satu hobi. Di kalangan otaku generasi
III, kecenderungan Moé sudah menjadi istilah yang disepakati bersama,
sekaligus sebagai prinsip dan tujuan. Otaku generasi III makin tenggelam di
dalam dunia yang digambarkan manga, dan bahkan sampai menyenangi high
culture yang ada di
dalamnya.
Apa Arti Wota?
Wota berasal katanya dari Otaku(オタク), berkonotasi negatif, sering di gambarkan sebagai
orang anti-sosial yang ga pernah keluar rumah, tapi seiring waktu konotasi
nya berubah dan Otaku ditulis sebagai wotaku(ヲタク)(dibaca
“Ootaku”) untuk membedakan dari konotasi Otaku yang dulu. Wotaku(ヲタク)juga bisa disebut wota(ヲタ)(dibaca
“Oota).
Wota itu adalah orang-orang yang mempunyai dedikasi tinggi untuk mendukung dan mengikuti perkembangan idol-idol mereka. Antusiasme dan obsesi yang mereka punya lebih tinggi dari fans. Ada wota yang buat kue ulang tahun untuk ulang tahun Idolnya dan merayakannya sendiri. Meluk guling gambar oshi(idol)-nya sampe ga mau lepas. Dekorasi nuansa Idol di mobil ataupun kamar juga bisa digunakan sebagai contoh. Koleksi barang-barang yang berbau Idol juga bukan hal yang jarang.
Lalu
bagimana caranya membedakan seorang Wota?
Karena wota ini sifatnya kultural, agak sulit
untuk dapat mengklasifikasi akurat. Jadi yang bisa menentukan seseorang itu
wota atau tidak hanya diri sendiri. Jangan percaya penilaian orang lain dan
juga jangan menilai orang lain. Yang tau seberapa besar dukungan seseorang
terhadap si Idol hanya orang itu sendiri. Kalau memang perasaan itu sudah masuk
dalam tingkat wota maka orang itu seorang wota. Pada dasarnya Fans atau Wota
tujuannya sama, menSupport Idolanya. Walaupun ada wota bukan berarti pendukung
suatu grup idol itu 100% wota.
3.Itasha
Itasha (痛車), secara harfiah "mobil yang
tersakiti", adalah sebuah istilah dalam bahasa Jepang untuk sebuah kegemaranotaku di
mana seseorang menghiasi badan mobil mereka
dengan tokoh
fiktif dari anime, manga,
maupun permainan
video. Tokoh-tokoh
ini didominasi oleh wanita moe.
Hiasan yang digunakan umumnya berupa skema cat dan
stiker. Sepeda
motor yang
dihias sedemikian rupa disebut dengan itansha (痛単車), sedangkan untuk sepeda disebut
dengan itachari (痛チャリ).
-
Etimologi
Pada tahun 1980-an, ketika Jepang berada
pada puncak kekuasaan ekonominya, jalanan Tokyo berubah menjadi parade mobil
impor yang mewah. Dari berbagai mobil-mobil itu, "itasha"lah yang
paling diminati. Pada saat itu, "Itasha" (イタ車), singkatan dari Itaria-sha (イタリア車), adalah mobil yang diimpor dari Italia.
Kini "itasha" dengan arti demikian hanya digunakan sebagai permainan
kata-kata.
Pada tahun 1990-an, istilah "itai" diambil untuk menjelaskan otaku yang kuat dan memuja-muja yang diasosiasikan dengan pembunuh berantai Tsutomu Miyazaki. Sejak saat itu, istilah "Itasha" (痛車) untuk mobil yang dihias mulai digunakan. Istilah ini merupakan hasil penggabungan kata bahasa Jepang itai (痛い, menyakitkan) dan sha (車, kendaraan). Itai di sini dapat diartikan sebagai "tersakiti karena malu" atau "menyakitkan dompet" akibat tingginya biaya yang diperlukan.
-
Sejarah
Penghiasan mobil ini dimulai pada tahun 1980-an dengan
boneka lembut dan stiker dari tokoh anime, manga, maupun permainan video, namun
baru menjadi fenomena pada abad ke-21, ketika budaya otaku telah menjadi cukup
dikenal melalui Internet. Laporan paling awal yang diketahui mengenai kendaraan
yang dihias ini adalah pada konvensi Comic Market ke-68
yang dimulai pada Agustus 2005.
4.Event
Jepang yang ada di Indonesia
Anime Festival Asia (AFA) adalah
serangkaian konvensi
anime tahunan yang
diselenggarakan oleh Sozo dan Dentsu di kawasan Asia Tenggara,
dengan konvensi induk yang diadakan di Singapura. Konvensi
induk biasanya diadakan pada akhir pekan di pertengahan November.
Konvensi ini pertama kali diselenggarakan di Suntec Singapore International Convention and Exhibition Centre, Singapura pada tahun 2008. Dari tahun 2008 hingga 2011, konvensi ini rutin diadakan setiap tahunnya di lokasi tersebut. Pada tahun 2012, konvensi tersebut dipindah ke Singapore Expo MAX Pavilion. Pada tahun yang sama pula, konvensi satelit mulai dibentuk dan diselenggarakan di Putra World Trade Centre,Kuala Lumpur, Malaysia dan di Jakarta International Expo, Jakarta, Indonesia.
Pada tahun 2013, konvensi induk dipindahkan kembali ke Suntec Singapore International Convention and Exhibition Centre, sedangkan untuk konvensi satelit di Indonesia dipindahkan ke Jakarta Convention Center.
Anime Festival Asia merupakan salah satu konvensi anime di luar Jepang yang terbesar, dengan jumlah pengunjung yang mencapai 82.000 pada tahun 2011, dan diperkirakan mencapai 85.000 pada tahun 2012.
Gelar Jepang Universitas Indonesia adalah acara budaya
jepang tahunan yang dibawakan oleh mahasiswa Studi Jepang, Universitas
Indonesia. Acara ini telah diselenggarakan 21 kali sejak tahun 1994 dan
merupakan acara kebudayaan Jepang terbesar yang diselenggarakan oleh mahasiswa
di Indonesia. Dalam Gelar Jepang Universitas Indonesia yang ke-22, para
pengunjung dari segala usia, jenis kelamin, dan pekerjaan dapat menikmati
budaya tradisional kontemporer dari Jepang dalam kurun waktu tiga hari.
Pameran, bazaar, lomba, workshop, seminar, pertunjukan musik, dan banyak lagi
digelar di event ini.
Kesimpulan
Budaya merupakan
suatu asset yang dimiliki oleh setiap daerah, bahkan budaya merupakan sebuah
asset Negara. Setiap daerah di Indonesia memiliki budaya yang berbeda,
budaya-budaya ini hendaknya di pelihara dan dilestarikan oleh masyarakat karena
budaya merupakan identitas Negara. Peran masyarakat sangatlah penting dalam
melestarikan budaya, namun pada kenyataannya saat ini hanya sebagian kecil
masyarakat yang peduli terhadap budaya, hal ini disebabkan adanya budaya-budaya
asing yang masuk ke Indonesia dan sangat di gandrungi oleh pemuda-pemudi yang
ada di Indonesia. Budaya asing semakin gencar mempengaruhi generasi muda
Indonesia hal ini dikarenakan adanya internet yang mempermudah mereka
mendapatkan informasi.
Saran
Kepada pembaca agar lebih melestarikan kebudayaan
Indonesia, walaupun era globalisasi tidak dapat dihentikan Indonesia butuh
generasi-generasi penerus yang berakhlak dan bermoral.
Daftar Pustaka
















Tidak ada komentar:
Posting Komentar